This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, April 10, 2014

Dieng Tawarkan Paket Wisata Baru

 Di tempat baru ini, wisatawan bisa melihat matahari terbit dan sore harinya bisa melihat temaram senja sebelum matahari terbenam.Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa menyiapkan paket wisata baru bagi mereka yang akan berlibur ke daerah di atas awan itu.
"Selama ini yang lebih dikenal adalah Bukit Sikunir dan Prau, padahal ada tempat lain yang menurut saya paling indah dibanding tempat lainnya," kata Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, Selasa 8 April 2014.
Ia mengatakan, di Bukit Pangonan, calon lokasi baru itu, terdapat padang savanna yang luas yang bernama Telaga Sumurup. Hanya saja, lokasi baru itu terletak di cagar alam yang membutuhkan izin khusus dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah.
 Menurut kisah pewayangan, Telaga Nirwana merupakan tempat tokoh kera Hanoman malih rupa menjadi manusia kembali setelah membasuh muka dan badannya dengan air telaga nirwana.Masih menurut Hadi, di lokasi baru juga terdapat Telaga Nirwana.
 Ada pula habitat asli tanaman purwaceng, ginseng dari tanah Jawa. "Lansekap Candi Arjuna juga bisa dilihat dari bukit ini," katanya.Selain itu, kata Hadi, di tengah savanna terdapat pohon cemeti yang mistis.
 "Penggunaan kuda dimungkinkan sebab rute jalannya juga mendukung.Untuk memudahkan mencapai bukit, kata Hadi, akan dibuatkan jalan setapak dan jalan kuda bagi yang tak kuat berjalan menanjak. Lagi pula, alternatif ini seperti mengembalikan kodratnya bukit Pangonan yang menurut sejarahnya merupakan tempat angon kuda," katanya.
 "Apalagi untuk kegiatan semacam off road yang berpotensi merusak kelestarian Cagar Alam.Endi Suryo dari BKSDA Jawa Tengah mengatakan, Telaga Sumurup merupakan lahan konservasi yang sifatnya tertutup dan tidak boleh diselenggarakan kegiatan. Namun kalau kegiatan yang dilakukan berupa jalan kaki dan penelitian, kemungkinan besar akan diizinkan," katanya.
Ia menambahkan, banyaknya peminat fotografi yang datang juga berpotensi merusak lingkungan cagar alam. Menurut dia, adanya pehobi foto yang sering tidak menggunakan etika wajib ditertibkan. "Ada larangan mengambil gambar di lokasi konservasi," katanya.

Thursday, January 9, 2014

Dokar Wonosobo, Bertahan di Tengah Impitan Ojek dan Angkot


 Sekuat apa pun para sais bertahan dari derasnya tekanan transportasi modern, tetapi tanpa ada dukungan pemerintah setempat, lambat laun transportasi andalan yang melegenda di Wonosobo ini akan punah, hanya tinggal kenangan.Kini, nasib dokar bergantung pada dukungan pemerintah setempat.

Data dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo, empat tahun terakhir ini menunjukkan tren penurunan jumlah dokar. Pada tahun 2009 jumlah dokar yang terdata 301 dokar, tahun 2010 sebanyak 267 dokar, tahun 2011 sebanyak 230 dokar, dan 2012 terdapat 200 dokar.
Ketua Sais Dokar Kereta Jaya Wonosobo Ngadiyo (51) mengungkapkan, pada tahun 1980-an jumlah sais dokar di Wonosobo mencapai hingga 600 orang. Saat ini hanya tersisa sekitar 250 sais. Namun, sejak lima tahun terakhir ini jumlahnya terus berkurang. Ratusan sais terpaksa memilih beralih pekerjaan lain.
Jumlah terus menurun.
Lalu, mengapa transportasi ini masih menjadi pilihan rakyat setempat? Selain karena ikatan emosional yang tercipta antara pelanggan dan sang kusir atau sais selama puluhan tahun, kondisi alam di Wonosobo yang sejuk menjadikan warga memilih naik dokar.

Segelintir warga Wonosobo, terutama simbok-simbok (ibu-ibu) yang berbelanja ke pasar, masih tetap setia dengan dokar. Kendati demikian, kehadiran mobil dan sepeda motor yang perlahan-lahan menggeser peran dokar sebagai alat transportasi rakyat ini menjadi ancaman yang terus membayangi eksistensi dokar.
 Dapat Rp 50. Itu pendapatannya masih kotor karena mesti dikurangi makanan kuda sekitar Rp 10.000 sudah untung. Kadang sehari cuma Rp 20.000, kadang bisa sampai Rp 40.000.”Enggak mesti dapat berapa.000 sampai Rp 20.000,” ujar Edi Santoso (31), sais dari Desa Sarwodadi, Kecamatan Tawangsari.

 ”Saya pernah dapat piala,” ujar Sukardi menunjukkan lima piala yang diterimanya sekitar tahun 1980 hingga 1990.Demikian dekatnya dokar dengan rakyat, sampai-sampai setiap tahun ada lomba cerdas cermat khusus untuk sais dokar.
 Bantuan ini untuk kesejahteraan anggota dan istri sais dokar dalam bentuk usaha ekonomi produktif.Untuk membantu para sais, pada tahun 2001 atau sekitar 12 tahun lalu Pemkab Wononobo pernah memberikan bantuan stimulan sebesar Rp 150 juta yang diberikan melalui Koperasi Mega Gotong Royong (Komegoro) yang beranggotakan sais dokar.
 Dokar tidak lagi menjadi transportasi utama di Wonosobo.Kini, seiring berjalannya waktu, dokar pun mulai tergusur. Menurut Sukardi, agar dokar tetap hidup, ada kesepakatan di antara sais dan sopir angkutan kota, yakni angkot tidak boleh menarik penumpang di ruas jalan tertentu yang disepakati sebagai wilayah penumpang dokar.
Jual dokar.

 Hingga kini, dokar masih mendapat tempat di hati warga.SELAMA puluhan tahun dokar atau andong menjadi andalan utama transportasi rakyat di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Walau harus bersaing ketat dengan angkutan kota dan ojek, transportasi yang menggunakan tenaga kuda tetap eksis di kota dingin ini.

 Namun, Bupati Wonosobo Kholiq Arief menyebutkan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo sejak tahun lalu menyiapkan 15 unit dokar yang beroperasi di kawasan obyek wisata Dieng Plateau pada saat libur hari raya dan kegiatan-kegiatan pariwisata.Pemkab Wonosobo sendiri hingga sejauh ini tidak punya program khusus untuk mempertahankan eksistensi dokar.

 ”Satu rumah bisa punya dua sampai tiga dokar. Saya bisa menyekolahkan anak sampai lulus SMA,” katanya. Hampir semua warga menggunakan jasa dokar. Karena itu, memiliki dokar di zaman itu sangat menjanjikan.Sukardi (52), sais dokar yang juga pernah menjadi Ketua Sais Dokar Wonosobo, menyebutkan, di tahun 1980-an dokar Wonosobo mengalami masa kejayaan. Ketika itu belum ada angkutan umum seperti sekarang. Bahkan di kampungnya, kelurahan Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, ada lebih dari 25 dokar.

 Yang terakhir dokar dan kuda dia jual Rp 6 juta. Sejak dulu ia punya tiga dokar dan kuda. Namun, lima tahun lalu, Marmo terpaksa menjual dua dokar beserta kudanya karena pendapatan yang diterima tidak seimbang dengan biaya perawatan kuda.Derasnya tekanan transportasi modern juga dirasakan Marmo (63), sais dokar asal Desa Jogoyitnan, Wonosobo, yang menjadi kusir sejak 1970-an.
 Dokar kayak anggang-anggang di kolam, enggak naik enggak turun,” katanya.”Sekarang banyak hijet (angkutan kota) dan honda (ojek). Terminal induk buat dokar juga sudah enggak ada.

Di luar alasan itu, bagi sejumlah warga, mereka masih setia dengan dokar karena ongkosnya tidak jauh beda dengan angkot, yakni sekali jalan sekitar Rp 2. Jika membawa belanjaan yang banyak, cukup bayar Rp 10.000.000 bisa pakai satu dokar.

 ”Sekarang kuda kalah sama mesin,” kata Edi, yang saat bertemu Kompas sedang mangkal di salah satu ujung jalan, tak jauh dari Alun-alun Wonosobo, beberapa waktu lalu.Edi yang sudah lebih dari 10 tahun menjadi sais mengaku dari tahun ke tahun pendapatannya makin tak tentu.
 Dokar yang beroperasi malam diberi tanda roda putih dan harus dilengkapi dengan lentera sebagai penerangan dan lonceng untuk bel.Saking banyaknya dokar ketika itu, operasional dokar dibagi dua, yakni pagi sampai sore dan sore sampai malam.
 Tempat lain yang menjadi lokasi mangkal dokar adalah Jalan Pasar 1 yang terletak di Jalan Resimen Wonosobo, serta kompleks Pasar Sapen. Lokasi Pasar Sapen juga berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran kuda.”Enggak kuat lagi, lebih baik dilepas,” katanya saat ditemui sedang mangkal di bagian selatan Pasar Induk Wonosobo, salah satu pangkalan dokar yang dikenal dengan sebutan Jalan Pasar 2.
 Di samping itu, ada upaya-upaya pembinaan dari instansi terkait, seperti Satpol PP dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Wonosobo, bagi sais dokar dalam rangka ketertiban, baik dalam menggunakan jalur maupun mendukung kebersihan lingkungan.Setiap tahun, melalui Badan Lingkungan Hidup, juga dialokasikan anggaran bantuan kantong kotoran kuda dan sorok untuk membersihkan kotoran kuda bagi dokar untuk mendukung kebersihan kota.

 Selain SIM Dokar, para pemilik sais juga harus mengantongi Surat Izin Operasional Dokar (SIOD). Dia bahkan dengan bangga menunjukkan surat izin mengemudi (SIM) dokar yang sudah habis masa berlakunya, yakni November 2006 lalu.Meski tidak terlalu menjanjikan, Marmo mengaku akan tetap menjadi sais dokar hingga masa tuanya nanti.
”Kami sudah kenal lama dengan sais-saisnya, jadi tiap belanja ke pasar lebih enak naik dokar. Lagian kalau naik dokar kan enggak kepanasan, banyak anginnya,” kata Sriyati (60), warga Wonosobo yang mengaku telah puluhan tahun pakai dokar.

Kendati demikian, hampir semua para sais dokar mengaku dalam 10 tahun terakhir, bahkan dalam lima tahun terakhir, jumlah penumpang dokar menurun drastis. Dampak yang paling dirasakan, pendapatan para sais tiap hari makin menurun.
 Selain memberi wilayah bagi dokar untuk beroperasi di wilayah yang tidak berebutan dengan angkutan kota, pemerintah setempat diharapkan membantu para sais setidaknya untuk mendukung operasional koperasi sais.Bagi Ngadiyo, mati hidupnya transportasi tradisional di Wonosobo ini juga sangat bergantung pada kepedulian pemerintah.
 Beda dengan sekarang, tiga sampai empat tahun baru kembali,” ujarnya. Dulu saya beli dokar Rp 5 juta sudah dapat yang istimewa, komplet dengan kudanya. Jalan satu tahun sudah kembali modalnya.Rohim (40), yang beberapa tahun lalu menekuni pekerjaannya sebagai sais dokar, mengaku terpaksa melepas pekerjaannya dan memilih menjadi juru parkir di sekitar Pasar Induk Wonosobo. ”Sekarang susah. (Sonya Hellen Sinombor)

Wednesday, November 27, 2013

Bersantai di Wonosobo



Pemandangan daerah pegunungan yang mengesankan memberikan suasana yang sempurna untuk bersantai dan merasakan kedamaian. Udara pegunungan yang sejuk menjadikan kota ini cocok sebagai tempat untuk bersantai.Terletak di jantung kota Jawa Tengah, kota kecil Wonosobo memiliki pemandangan pegunungan yang indah dengan suhu rata-rata 24 derajat Celcius.

Di sebelah timur Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro berdiam dengan gagah, kedua gunung berapi ini masih aktif. Di utara terdapat Gunung Perahu dan di bagian Barat terdapat pegunungan Kulon.Gunung-gunung di sekitar Wonosobo memberikan pemandangan menakjubkan. Air juga merupakan penghias alami tempat ini, sungai Serayu mengalir melewati kawasan ini.

Wonosobo merupakan perhentian yang menarik bagi mereka yang ingin melanjutkan perjalanan ke Borobudur.Ketika saudara sampai  di Wonosobo, kau akan merasa bahwa sedang berada di dunia lain, di mana fase kehidupan lebih lambat dan kehidupan kota yang sibuk akan terasa terlupakan.
.
.

Sunday, November 24, 2013

Gunung Sindoro Lewat Jalur Sigedang Wonosobo


 Untuk mencapai gunung yang berketinggian 3.150 mdpl ini yang umum adalah lewat jalur Kledung Temanggung.Gunung Sindoro, gunung yang berdampingan dengan Gunung Sumbing terletak di jalur utama Magelang - Wonosobo. Dan ada lagi jalur lain yang cukup menarik, yakni jalur Sigedang.
POS III - Watu Susu.
 Disini terdapat bangunan yang sudah roboh, namun cukup untuk mendirikan 3 tenda dome. Jika fisik kurang mendukung sebaiknya mendirikan camp di pos ini.POS 3 berada ditengah tengah perjalanan menuju puncak. Karena perjalanan selanjutnya selama 3 - 4 jam ke puncak kita tidak akan menemukan selter untuk mendirikan tenda.
Selanjutnya bisa jalan kaki atau naik ojek ke desa Sigedang, kurang lebih 4 km. Disini kita mengurus perijinan dan bisa juga mengisi persediaan air karena sepanjang jalur sampai puncak tidak kita jumpai sumber mata air. Begitu sampai di Sigedang sebaiknya menuju rumah pak Amin, juru kunci Sindoro.

Sigedang - Perkebukan Teh - POS III.
Di kawasan puncak kita tidak akan bingung untuk mendirikan tenda karena Gunung Sindoro memiliki dataran luas pada puncaknya, sekitar 400 x 300 meter. Dibagian timur terdapat dua kawah seluas 200 x 150 meter, dan dibagian barat terdapat dataran SegoroWedi dan Banjaran dan dua dataran lain yang belum bernama yang merupakan sisa kawah utama.
.
Watu Susu - Puncak.
.
Dari Watu Susu perjalanan kepuncak masih sekitar 1 sampai 1,5 jam lagi. Pendaki harus hati hati terutama yang berjalan didepan agar tidak membahayakan pendaki di belakangnya. Melewati jalan bebatuan yang licin dan kadang batu longsor saat kita injak. Setelah itu sampailah kita di kawasan puncak Gunung Sindoro.
 Kemudian perjalanan dilanjutkan ke POS III.Sepanjang perkebunan terdapat 2 pos dengan bangunan semi permanen yang bisa dipakai untuk istirahat. Jalur ke POS III berkelok kelok sehingga tidak begitu curam. 2 jam setelah melewati perkebunan teh kita akan sampai pada batas perkebunan dengan hutan.
400 mdpl, disini sudah bisa kita jumpai pohon Carica yang bisa tumbuh di dataran tinggi. Untuk mencapai desa Sigedang dari arah Wonosobo naik bus jurusan Dieng, turun di pertigaan Rejosari arah ke Tambi.Desa Sigedang berada pada ketinggian 1.
 Diperkebunan teh ini banyak sekali terdapat persimpangan. Kemudian berbelok ke kanan melewati jalanan berbatu menyusuri perkebunan teh.Dari desa Sigedang perjalanan dilanjutkan ke arah perkebunan teh melewati jalan aspal sekitar 20 menit. Bagi pendaki yang belum pernah mendaki Gunung Sindoro sebaiknya mencari teman perjalanan yang paham jalur Sigedang.
 Namun pada musim kemarau kedua genangan tersebut biasanya akan kering.Pada saat curah hujan tinggi kedua kawah ini terdapat banyak air yang bisa kita gunakan untuk minum dan memasak. Genangan air tersebut bersih dan dapat digunakan karena tidak terdapat belerang disini.

Kurang lebih 2 jam dari sini kita akan sampai di Watu Susu. Watu Susu merupakan 2 buah batu besar yang oleh warga setempat dianggap sebagai buah dada Gunung Sindoro. Menurut kepercayaan warga setempat, Gunung Sindoro adalah gunung perempuan dan suaminya adalah Gunung Sumbing dengan anak Gunung Kembang.